Close
Situs Resmi MAPESA (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh)

Situs Lamuri Masih Terus Mengeluarkan Data Sejarah

Dokumen Mapesa 6/6/2021

Meski dalam kondisi terabaikan, dan terkesan seperti tidak dipentingkan oleh para pemangku kepentingan di Aceh, kawasan situs sejarah itu, dari waktu ke waktu, masih terus mengeluarkan bahan-bahan yang memperkaya data sejarah.”

Jika rekonstruksi sejarah diumpamakan seperti menyusun puzzle (permainan bongkar pasang), perbedaannya sudah jelas pada kepingan puzzle yang telah tersedia, dan tinggal pasang! Sementara “kepingan” sejarah, tidak begitu!

“Kepingan” sejarah adalah data-data yang diperoleh dari bahan-bahan yang mesti dilacak, diperiksa, diteliti dan dikumpulkan. Bahan-bahan itu hampir tidak dapat ditemukan sekaligus dalam suatu waktu atau di sebuah tempat. Ini kerja yang memakan waktu. Bahkan, pelacakan sekonsisten dan semasif apapun terkadang harus menunggu waktu lama sampai bahan-bahan itu muncul dan ditemukan.

Kemunculan atau penemuan itu juga tidak jarang secara mengejutkan!

Seperti pada Ahad lalu, 6/6/2021, sebuah batu nisan dari abad ke-9 Hijriah (ke-15 Masehi) baru saja muncul dan ditemukan di kawasan situs Lamuri, Gampong Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Tempat di mana batu nisan itu ditemukan, padahal, sudah berulang kali dikunjungi dan diamati. Batu nisan itu tidak pernah terlihat di sana sebelumnya. Namun, ini sudah pasti tidak terjadi secara ghaib atau abnormal. Seseorang tentu telah mengangkat batu nisan itu dari suatu tempat dalam semak belukar atau lainnya dan meletakkannya di tempat mana batu nisan itu kemudian ditemukan.

Dokumen Mapesa 6/6/2021

Penemuan itu berawal ketika Aditya Iskandar, salah seorang sahabat Mapesa, yang pada Sabtu, 5/6/2021, mengirimkan foto batu nisan itu ke Mapesa seraya menanyakan, apakah keberadaan batu nisan ini sudah diketahui oleh Mapesa?

“Tempatnya di dekat reruntuhan struktur benteng Kuta Leubok,” jelas Aditya.

Mapesa kemudian mengonfirmasikan bahwa batu nisan itu belum terdaftar dalam data batu-batu nisan peninggalan sejarah di Gampong Lamreh, dan karena itu akan segera dilakukan pengecekan ke lokasi.

Kawasan Situs Sejarah Lamuri

Kawasan situs sejarah Lamuri di Gampong Lamreh, sebenarnya, sudah sejak lama diketahui. Survei dan penelitian dalam skala besar pernah beberapa kali dilakukan di sana. Usulan dan rekomendasi agar kawasan peninggalan sejarah tersebut ditetapkan sebagai kawasan situs cagar budaya juga sudah sejak lama disuarakan berbagai pihak. Namun sampai hari ini, dengan tanpa alasan yang diketahui, kawasan situs sejarah itu belum memperoleh penetapan resmi sebagai kawasan situs cagar budaya, baik dari Pemerintah Aceh Besar maupun Pemerintah Aceh.

Signifikansi kesejarahan dan kebudayaan yang luar biasa yang dimiliki kawasan situs sejarah Lamuri sampai saat ini masih belum mendapatkan perhatian yang sepatutnya. Padahal, dengan pelestariannya, kawasan itu dapat menjadi lapangan penelitian berkelanjutan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan, terutama sekali pengetahuan sejarah dan kebudayaan di masa lampau Aceh. Di samping, kawasan warisan itu juga dapat menjadi aset kebudayaan sepanjang masa yang potensial untuk mengalirkan kesejahteraan hidup, tidak saja bagi masyarakat sekitarnya, tapi juga bagi masyarakat Aceh secara umum.

Temuan Terbaru

Meski dalam kondisi terabaikan, dan terkesan seperti tidak dipentingkan oleh para pemangku kepentingan di Aceh, kawasan situs sejarah itu, dari waktu ke waktu, masih terus mengeluarkan bahan-bahan yang memperkaya data sejarah. Batu nisan yang baru saja ditemukan adalah temuan terbaru untuk waktu ini.

Sebagaimana diinformasikan Aditya Iskandar, batu nisan itu berada di lokasi yang dikenal dengan Kuta Leubok, sebuah lokasi di mana terdapat reruntuhan sebuah struktur kuno di Gampong Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Lokasi tersebut berada di bagian timur kawasan situs sejarah Lamuri, pada keletakan astronomis 5°36’32.27″LU- 95°32’12.27″BT.

Dokumen Mapesa 6/6/2021

Saat ditemukan, batu nisan terlihat disandarkan pada pangkal satu pohon kelapa. Bekas di tanah menunjukkan bahwa sebelum disandarkan ke pohon kelapa, batu nisan itu dalam posisi tergeletak. Tidak ada petunjuk apapun yang menandakan batu nisan itu in situ (di tempat aslinya). Tidak dijumpai pula pasangan batu nisan sebagaimana lazimnya (batu nisan kubur semestinya terdiri dari batu nisan kepala dan batu nisan kaki). Ini menguatkan bahwa batu nisan itu telah dipindahkan dari suatu tempat. Tempat asli belum diketahui untuk sementara ini.

Batu nisan berukuran tinggi tiga jengkal dengan lebar basis di keempat sisinya sekitar satu jengkal ini memiliki pola bentuk sebagaimana lazimnya batu-batu nisan Lamuri; persegi empat di bagian bawah lalu mengerucut ke bagian atas. Beserta aspek-aspek lainnya seperti material serta pola dekorasi dan kaligrafi yang digunakan, batu nisan itu menampilkan ciri khusus batu nisan Lamuri dari abad ke-9 Hijriah (ke-15 Masehi) yang banyak ditemukan di kawasan itu.

Dokumen Mapesa 6/6/2021

Dari inskripsi yang terdapat pada batu nisan, diyakini bahwa ini adalah batu nisan kaki dari sebuah kubur. Inskripsi pada batu nisan kaki dari batu-batu nisan bertipologi Lamuri umumnya adalah ayat-ayat Al-Qur’an, bait-bait syair atau pesan-pesan, sementara epitaf, umumnya, terdapat pada batu nisan kepala.

Inskripsi pada batu nisan hanya dapat terbaca secara jelas pada dua sisi dari empat sisinya. Dua sisi lain telah mengalami erosi yang menyulitkan pemastian bunyi inskripsi.

Inskripsi yang dapat terbaca membunyikan pesan-pesan yang mengingatkan tentang dunia yang fana dan akhirat yang kekal. Pesan-pesan itu juga menegaskan bahwa pencarian kesenangan dunia dan pencarian kebahagian akhirat adalah dua hal yang tidak pernah dapat disatupadukan. Sementara peringkat Mu’min tertinggi, menurut pesan itu, adalah Ahlu-Llah, orang-orang yang hidupnya semata-mata untuk mengabdikan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebuah data penting tentang sumber kekuatan rohani yang diunggulkan pada zaman itu, abad ke-9 Hijriah (ke-15 Masehi)!

Dokumen Mapesa 6/6/2021

Inskripsi:

الدنيا فاني والآ
خرة باقي
الدنيا حرام على

Dokumen Mapesa 6/6/2021

Inskripsi:

على أهل الآخرة والآخرة
حرام على أهل الدنيا
وهما حرامان على أهل [الله]

Dokumen Mapesa 6/6/2021

Inskripsi pada sisi ini sudah tidak dapat terbaca.

Inskripsi di bagian ini tidak dapat dipastikan bacaannya.

Teks inskripsi yang terbaca beserta terjemahannya:

الدنيا فاني والآخرة باقي ، الدينا حرام على أهل الآخرة والآخرة حرام على أهل الدنيا وهما حرامان على أهل الله

Dunia itu adalah sesuatu yang fana, dan akhirat adalah sesuatu yang kekal. Dunia itu haram bagi para pencari akhirat, dan akhirat haram bagi para pencari dunia, dan keduanya haram bagi para pencari Allah.

Dokumen Mapesa 6/6/2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 Comments
scroll to top